Senin, 18 Juli 2011

Sekecil Cahaya Lilin Untuk Kevin (Part II)

Oke guys kita lanjut cerita si Kevin yah, mungkin penerbitan agak lambat guys tapi gw usahain deh secepat mungkin walaupun masa taun ini gw harus ngadapin UN hahahaha oke lanjut!

Sekecil Cahaya Lilin Untuk Kevin (Part II)

Saat bu guru bikin anak-anak sekelompok sama temen sebangku, perasaan Kevin udah beda. Banyak kata-kata yang terlintas di otak Kevin. Tapi akhirnya, Shinta mendekat dan menyodorkan tangannya. Tapi lain hal dengan Kevin, dia malah parno dan ampir lompat gara-gara tuh sebatang, sebijik, sebuah, sebatang tangan milik Shinta.

Shinta : hmm … kenapa?(suara lembut Shinta keluar dengan datangnya tanda tanya)

Kevin : e…eh…hmm ga kenapa-kenapa kok … (sambil gelagapan ga jelas kayak curut kepansan)

Shinta : eh … dari tadi kan kita belom ada tuh kenalan, jadi …

Kevin : nama gue Kevin .. (Kevin langsung menjawab dengan sok tegas nya)

Shinta : hihihihihi(ketawak lembut para gadis) … kamu lucu yah J

Hahaha dengan sekejap dunia Kevin berubah dari sangarnya tanah di bumi ini dan pagar yang setinggi pohon beringin apa lagi temboknya segede-gede gabon yang menutupi moment indah untuk Kevin. Yang di rasakan Kevin seperti waktu itu terasa lambat, dan angin bertiup pelan kearah mereka, suasana semakin hangat, dan seperti hanya ada mereka berdua yang ada di kelas itu.

Selama tugas kelompok sudah di proklamirkan oleh bu guru, Kevin tak melepas pandangannya kearah Shinta, tentu saja muka Shinta memerah namanya dipandang dengan pandangan hangat Kevin (eseeeeeeeeeeehhhh :D).

Shinta : Kevin, kok liatin aku aja sih? Ga enak loh di liatin gitu(sambil tersipu malu)

Kevin : iya emang gitu rasanya(terus memandang Shinta dengan pandangan hangatnya)

Shinta : hmm… eh tolong dong kerjain yang ini biar cepet di kumpul

Kevin : semuanya juga boleh kok, sini gue kerjain aja (sambil senyum-senyum)

Dilihat dari asal-usul nya Kevin menginjakkan kaki, dia dari keluarga yang sangat kaya tentu saja terpelajar. Jadi dengan mudah dia kerjakan soal-soal yang di kasih sama bu guru, tapi bukan hanya mengerjakan tugas itu saja Kevin bikin paket malah.

Kevin : eh … ga jadi deh gue kerjain tugasnya…

Shinta : loh kenapa? Susah yah, yaudah sini kita bagi 2

Kevin : bukannya gitu ini soal terlalu gampang(sombongnya nanti dihantui baru tua). Tapi aku punya paket buat kamu, paketnya itu : ngerjain soal semua + gue yang ngumpulin + yang paling penting senyum kamu dikit dong :P

Shinta : iiiihh …. Gatel ih

Kevin : ga kok udah mandi gue kok ga gatel-gatel? Oh lo yang gatel-gatel yah sini gue GARUKKIN :P

Shinta : iiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhh …. Makiiiiin GATAL

Kevin : bagian mananya nih? Biar di batuin GARUKKIN, udah siap nih tangan

Hahaha nafsu laki-laki Kevin malah kebuka macem pagar rumah dia yang ga bisa lagi di definisikan, walaupun dia dari keluarga terpelajar tapi tingkah terpelajar itu hanya untuk di rumah bukan diluar itu semboyan hidup dia selam di penjara(rumah maksudnya).

Waktu pun terus berlanjut, Kevin dan Shinta bercanda tawa bersama, belajar bersama, istirahat di kantin pun bersama, pokoknya romantis deh buat ukuran anak SD(yang SMA aja ga segitunya hahahha). Hari menjelang siang yang menjelang sore, saatnya mereka pulang. Sudah otomatis seorang, seekor, sebutir, sebatang, sepucuk Kevin pasti udah ada Hammer yang setia menunggunya hingga akhir hayat tuh mobil. Kevin mengajak Shinta untuk pulang bersama, Karena rumah mereka jaraknya hanya sebatas kaki kepleset juga nyampek.

Kevin : Shinta …. Mau pulang bareng ga? Gue anter deh ampe depan rumah lo oke?

Shinta : aduh vin, bukan nya gitu juga tapi tuh udah ada yang ngejemput aku

Kevin : siapa? Papa lo ye? Dimana dia? Kenalin gue dong …

Shinta : bukan siapa-siapa sih tapi…. itu di depan gerbang …

Sssuuuuppphhh, langsung deh senyap lagi dunia ini klo Kevin yang liat. Dia langsung diem dan pergi ke dalam Hammernya, ntah apa yang dia lihat mulai dari situ dia bilang mimpinya itu bukan maen-maen. Sesosok mahluk sangar betatto sampe leher ototnya gede sampe berlebih kemana-manayang nyiksa Shinta di mimpinya, itu lah yang ternyata dilihat Kevin dan terbayang sepanjangan jalan kenangan(nama jalan rumah Kevin dan Shinta). Sesampainya di singgah sananya yaitu rumah dengan pagar yang setinggi pohon beringin apa lagi temboknya segede-gede gabon, tempat dimana Kevin selalu melihat matahari pagi setiap hari. Dia langsung masuk kamar dan berharap ada teman disini untuk menghibur hingga dia bisa lupa sama mimpi itu.

Seperti biasanya Kevin hanya bermain di dalam kamarnya yang penuh dengan PS one,PSP,PS2,PS3,Xbox,N Wii,gameboy,NDs, dan computer dengan RAM 4GB harddisk 1 TB LCD 21” sensor keyboard dan mouse buatan RAZER earphone merk Sennheiser. Dimanfaatkannya semua itu untuk cairkan suasana hati yang gundah gulana ini. Yah waktu menjelang malam di masih saja tidak bisa melupakan itu, dan di cobanya tidur dan di paksanya tidur dan akhirnya dia tertidur pulas.

Keesokan paginya, dia tidak bermimpi lagi dan sekarang dia malah bingung kok ga mimpi lagi? Yah mungkin Cuma mimpi sesaat karena berhalusinasi Shinta di gantung dengan simpul yang rapih. Oke, seperti biasa dengan Hammer pribadinya iya melesat bagaikan roket yang tak berasap dan tak bermesin. Setelah masuk kelas dia mulai aneh lagi, Shinta yang menyangka akan dapet temen dekat itu mulai heran dan bertanya, kenapa Kevin bertingkah laku aneh.

Shinta : vin … kamu ga apapa kan? (dengan nada lembut perhatian milik Shinta)

Kevin : hmm …. Ga apapa kok Cuma …. (Kevin menghela nafas nya)

Shinta : Cuma apa vin? Ada yang salah sama kamu yah?

Kevin : eh ga kok, ga ada apapa (gelagapan deh klo di tanya cewe cantik dengan latar belakangnya “serem”)

Yah Bel telah berkumandang dan bu guru pun masuk kelas bersama 2 orang anak laki-laki. Anak yang pertama tampangnya itu kayak orang paok tapi serius tapi lebih ke gaya hiphop, nah yang kedua tampangnya wibawa dan selalu membusungkan dada teplosnya. Akhirnya mereka berdua di berikan kesempatan emas sama bu guru, yaitu di persilahkan perkenalan.

Anak 1 : hei brada and sista yo, kenalin gue sama kak lo yang cantik n baik hati, nama gue rony panggil aja si “BOY” kalo ada yang macem-macem sama lo, lo tinggal panggil gue,udah so pasti gue pasti kabur dari TKP.(sambil nge-rap dengan verse seadanya)

Anak 2 : hmm… eheem(menggetarrrrrkan tenggorokan seperti ingin pidato panjang) hai semuanya, disini saya berdiri bukan hanya sebagai manusia yang menapakkan kaki dibumi kita dan bukan hanya seperti tong kosong tapi ada isinya, saya disini hanya ingin menyampaikan satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan patah kata, dengan ini saya sebagai murid pindahan akan berkenalan dengan semua rakyat yang ada disini, perkenalakan nama saya Robin, lebih tepat nya Robin Pattison

Boy : bro, gua mau bisikin nih “ini kelas baru bro bukan kelas lo dulu yang lo bikin muntah-muntah anak-anaknya makanya lo dipindahin disini, so don’t be like the anymore bro”

Robin : eh kamu tau tidak sedang berbicara dengan siapa?

Boy : sama kutu kupret…

Robin : wah ini namanya pelecehan nama baik nih … bisa saya tuntut kamu.

Boy : ah lo bro macem udah sok tua dan sok wibawa masih anak kls 6 SD aja lo udah belagu

Akhirnya mereka berdua berkelahi lidah(bukan lidah mereka saling jilat-jilatan yah…hueeeeekk ;P). Lalu, mereka di marahi oleh bu guru, dan di suruh meletakkan tas mereka di bawah dan mencari bangku dan meja sendiri di gundang itu sebagai hukumannya. Kevin semangat karena dia bakal nemuin temen yang bisa dia ajak bermain bareng, siapa lagi kalo bukan mereka berdua. Akhirnya lapak kosong yang ada di belakang tempat duduk Kevin dan Shinta telah terisi dengan 2 orang aneh yang masih bersilat lidah(ciiiiiaaaaaaaatttt :D). pelajaran di mulai seperti biasa dan tak ada terjadi keanehan seperti apapun, tapi mungkin ini suatu keanehan, Kevin ingin lebih dekat dengan 2 orang aneh itu dan saat dia melihat kebelakang, terlihat jelas perbedaan anak bebas dengan anak terpelajar. Si Boy jelas saja dengan gaya hip hop dan sedikit gaya MALASnya duduk santai seakan dia sedang menikmati hidupnya yang tidak panjang lagi, sedangkan Robin tetap terlihat tegar dari semua murid lain termasuk Kevin sendiri malah Robin sempat merangkai kata-katanya di secarik kertas yang bertuliskan “SAYA ROBIN PATTISON, DENGAN INI MENYATAKAN AKAN MENCALONKAN DIRI MENJADI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TAHUN BERAPA SAJA, HAL-HAL MENGENAI PEMINDAHAN, PEMECATAN, DAN PEMEGANG SAHAM NEGARA AKAN SAYA BERIKAN KEPADA MENTRI YANG BERSANGKUTAN … INDONESIA, 18 JUNI 2015 ATAS NAMA BANGSA INDONESIA ROBIN PATTISON”. Kevin yang jelas-jelas membaca itu hanya bisa menahan tawa nya dan tetap menyaksikan perbedaan 2 dunia yang ditampilkan oleh Boy dan Robin.

Tik tok tik tok tik tok…. Suara jam kelas yang terdengar sangat keras jika suasana kelas sudah menjelang pulang sekolah. Murid-murid hanya bisa diam terpaku menunggu pergerakan dari jarum jam yang berdetak dan terlihat lebih lama. Suara gemuruh perut para murid pun sudah bergejolak seperti perang Ambarawa, dan tak sengaja salah satu siswa mengeluarkan letusan bom Nagasaki dan Hiroshima yang mengagetkan para murid lainnya. Dengan tawa dan cerianya murid yang barusan di bom dengan gas nuklir, bel sekolah pun berbunyi dan jelas saja anak SD di sekolah ini sudah ga peduli lagi sama yang namanya salam dengan bu guru ato pak guru jika bel sudah berbunyi. Bel itu pun seperti terompet sangkakala bagi satpam yang bertugas di gerbang sekolah, seakan kiamat menyerbunya dan dia harus cepat membuka gerbang. Jika sepersekian detik saja dia terlambat membuka gerbang maka ajal akam menjemputnya.

Tapi ada beberapa murid yang masih mempunyai akhlak, dan menyalami guru sebelum mereka pulang. Yah, murid-murid itu adalah Kevin, Shinta, Boy, Robin, dkk. Mungkin kalo Kevin, Shinta, dan Robin jelas mereka terlihat sebagai murid yang terpelajar dan berakhlak. Tapi bagaimana dengan si Boy, jika di pandang dengan mata dan akal sehat, pasti ga terbayang seorang pemalas dan hidup bebas seperti Boy masih punya akhlak yang baik. Itu di karenakan dia memiliki orang tua yang selalu member nasehat, dan tentu saja dia dengan senang hati menerima nasehat itu. Tak lama di depan gerbang.

Kevin : woy, lo semua pulang sama siapa?

Shinta : aduh, aku ga tau vin masalahnya papa aku ga bisa jemput …

Robin : saya sih di jemput sama mama tercinta saya, dan dengan rasa hormat akan saya coba membalas semua perbuatan yang baik dan buruk mama saya dengan semua kebaikan yang saya miliki

Boy : heh, bin lo mending ga usah deh banyak ngomong, empeeettt nih gue dengernye… oh ya vin napa lo nanya begituan emang lo mau nganterin gue?

Kevin : shinta , kalo gitu lo pulang nya bareng gue aja ye, oh bin lo di jemput yee, kalo lo mau oke gue anterin deh emang di mana rumah lo?

Shinta : oke deh vin aku ikut

Kevin : asiiikkk , eh boy mending lo…

Boy : rumah gue di jalan blablablablablablabla yaudah gue ikut lo deh

Kevin : (yah ada si Boy nih ?? aduuuh perusak !!)

Akhirnya mama nya robin yang akan dibalasnya itu datang dan menjemput Robin. Tinggal mereka bertiga, mereka langsung menaiki Hammer pribadi punya Kevin.

Boy : wah boleh juga mobil pribadi lo vin, gue boleh nyupir kan?

Kevin : weessshh, udah ada supir boy mending ga usah aja deh, ga enak perasaan gue

Shinta : hihihihihihihi(tawa imut dari Shinta yang bikin Kevin klepek-klepek kaya ikan di padang pasir firaun)

Yah Boy di antar pulang dulu karena Shinta juga mau melihat dimana rumah roy. Yah memang agak jauh dari rumah mereka berdua tapi sepanjang jalan mereka hanya bisa bercanda. Walaupun kadang Kevin bercanda yang garing tapi lumayan deh bikin ramein suasana di mobil. Dari kejauhan sudah terlihat kastil kuno tahun 70an megah, besar, dan memiliki relief yang indah.

Kevin : wiiiih, keren yah tuh Kastil … kerajaan mana yang bikin Kastil di tempat beginian?

Shinta : ia, kok bisa cantik banget yah kaya bidadari …

Kevin : apanya kaya Bidadari? Kastilnya?

Shinta : hmm, itu yang di kaca loh masa ga Nampak sih vin?

Kevin : yang mana Shin?

Shinta : coba deh liat lebih jelas lagi(maksudnya itu yah pantulan wajah si Shinta di kaca mobil)

Kevin : (Kevin tersadar, dan langsung gombal) eh iya yah, tapi ga kaya bidadari loh …

Shinta : jadi?

Kevin : lebih tetapnya kaya putridari kerajaan bidadariKU … hehehehe

Shinta : ih Kevin gombal ah

Boy : eh eh … pinggir bang!!!! … ( siiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttt, ban mobil yang terpeleset di aspal)

Kevin : loh boy bikin terkejut aja, ngapain berenti di kastil ini boy.

Shinta : iya memang rumah kamu ada di belakang kastil itu yah nyempil?

Boy : waduh memang gay ague begini tapi ga segitunya juga keadaan keluarga gue, tuh yang lo pada bilang kastil yah rumah gue lah, tuh ada pembantu gue yang body nya tuh bohay amet dah hahaha, bikin semangat hidup tuh nambah.

Kevin : waaaaaaaaaahhhhhhh yang betul boy, keren amet rumah lo, kapan-kapan gue maen ke kastil ntu yee

Shinta : vin, aku ikutan dong

Kevin : iya saying, eh … alamak keceplosan gue

Boy : hahaha, yaudah deh gue masuk dulu ye … pak supir ati-ati yeh bawa mobilnya terus ongkos gue sama orang yang di belakang tuh okeh?!!?

Kevin dan Shinta hanya bisa terus tertakjub dengan kemewahan dan elegannya rumah Boy yang menyerupai Kastil. Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang kerumah. Saat sampai di depan rumah Shinta otomatis di depan rumah Kevin juga. Sudah berdiri sesosok mahluk sangar betatto sampe leher ototnya gede sampe berlebih kemana-manayang nyiksa Shinta di mimpi Kevin dan melotot sangar bagaikan bison yang punya dendam keramat sama si Kevin.

Yah guys apa nih yah yang terjadi selanjutnya? Apakah Kevin langsung cabut ke rumah nya ato malah bercanda tawa dengan sosok mahluk sangar betatto sampe leher ototnya gede sampe berlebih kemana-manayang nyiksa Shinta di mimpinya itu? Yah tungguin aja deh kelanjutan ceritanya :D

1 komentar: